ARTIKEL REPORTASE




1.     KATA POPULER
o   Senapan
o   Patroli

2.      ISI DARI ARTIKEL
Dalam artikel ini di jelaskan tentang penembak yang misterius. Pelaku belum diketahui siapa, jumlah pelaku dan motif penembakan. Sampai saat ini baru di ketahui ada 9 korban penembakan. 8 diantaranya adalah perempuan dan 1 korban adala laki-laki. Dari pengakuan korban, korban ditembak saat sedang berada di pinggir jalan di daerah Pecinan di kota Magelang, Jawa Timur.
Sampai saat ini polisi masih terus menyelidiki pelaku,polisi juga mengerahkan 30 personil di kota Magelang untuk pengaman yang diperketat dengan patroli. Menurut polisi senapan yang digunakan pelaku adalah senapan untuk menembak burung.

3.     KESIMPULAN

Pelaku penembakan,jumlah penembakan dan motif penembakan belum diketahui sampai saat ini. Sudah ada 9 orang yang menjadi korban penembakan, 8 diantaranya perempuan dan 1 korban laki-laki. Belum ada korban jiwa. Untuk pengamanan polisi memperketat patroli. Dan warga magelang disarankan untuk tidak berada diluar rumah untuk mengantisipasi korban penembakan misterius.

CARA MEMBUAT CRIMPING KABEL LAN STRAIGHT

Contoh penggunaan kabel straight adalah sebagai berikut :
Ø  Menghubungkan antara computer dengan switch
Ø  Menghubungkan computer dengan LAN pada modem cable/DSL
Ø  Menghubungkan router dengan LAN pada modem cable/DSL
Ø  Menghubungkan switch ke router
Ø  Menghubungkan hub ke router 
Sedangkan untuk fungsi kabel Stright yaitu untuk menghubungkan dua perangkat yang berbeda. 

Bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain :
  1. Konektor RJ45

Konektor yang akan menancap ke setiap perangkat yang akan dihubungkan, pemasangan harus mantap supaya komunikasi data juga bisa maksimal.
  
  1. Kabel UTP
Fungsi kabel UTP yaitu dapat digunakan sebagai kabel untuk jaringan Local Area Network (LAN) pada sistem network/jaringan komputer, dan umumnya kabel UTP memiliki impedansi kurang lebih 100 ohm, dan juga dibagi menjadi kedalam beberapa kategori berdasarkan kemampuannya sebagai penghantar data.
  1. Tang Crimping

Tank Crimping adalah alat untuk memotong kabel UTP dan untuk menjepit ujung konektor,dan ini sangat penting sekali bagi kita yang ingin belajar cara mengcrimping kabel,alat ini bentuknya hampir sama dengan Tank biasa yang sering kita lihat atau temui.

  1. Tester LAN

Untuk memastikan kabel yang sudah dibuat bisa digunakan, bisa menggunakan alat ini.



BERIKUT ADALAH CARA UNTUK MEMASANGNYA
  1. Siapkan kabel UTP sepanjang 0.5 meter.
  2. Kupas bagian luar kabel menggunakan alat pengupas kabel atau gunting sekitar 3 cm atau lebih, dan pastikan jangan sampai mengenai kabel kecil yang berada didalamnya seperti pada gambar dibawah ini :
Untuk membuat kabel Straight, susunan warna yang digunakan adalah :
Sususan warna pada ujung 1 = Putih Orange, Orange, Putih Hijau, Biru, Putih Biru, Hijau, Putih Coklat, Coklat
Sususan warna pada ujing 2 sama dengan ujung 1.









  1. Pasangkan kabel-kabel kecil yang terdapat dalam UTP tersebut dan luruskan. Susun dan rapikan berdasarkan urutan warnanya seperti pada gambar dibawah ini :


Urutan kabel straight

 








Putih Orange – Putih Orange
Orange – Orange
Putih Hijau – Putih Hijau
Biru – Biru
Putih Biru – Putih Biru
Hijau – Hijau
Putih Coklat – Putih Coklat
Coklat – Coklat


  1. Setelah urutan warnanya sesuai, potong dan ratakan ujung kabel yang terlihat panjang pendek. Sehingga terlihat seperti gambar dibawah ini :

  1. Ratakan ujung kabel dengan memotong nya menggunakan tang crimping. Masukan kabel yang sudah lurus dan sejajar tersebut ke dalam konektor RJ-45, Kemudian pastikan semua kabel posisinya sudah benar dengan posisi sebagai berikut :
 








  1. Kemudian crimping/jepit kabel tersebut menggunakan tang crimping sampai benar-benar kabel UTP terpasang kuat dengan konektor RJ-45.



  1. Jika semua kabel sudah terpasang dengan benar, anda tes menggunakan cable tester, tancapkan ujung masing-masing kabel, jika kabel tester menyala secara berurutan dari 1 – 8 maka kabel yang anda crimping sudah benar dan berjalan dengan normal, jika kabel tester menyala tidak berurutan atau salah – satunya tidak ada yang menyala, berarti ada yang salah dari urutan kabel atau kabel kurang tertekan, solusinya crimping/jepit lagi kabel tersebut menggunakan tang crimping atau jika masih gagal terpaksa harus mengcrimping ulang. Jika masih seperti itu ada kemungkinan kabel testernya rusak.


TUGAS BAHASA INDONESIA 2# - PENGERTIAN SIOGISME DAN CONTOH PARAGRAF SILOGISME, GENERALISASI, ANALOGI DAN HUBUNGAN KAUSAL


1.      SILOGISME KATEGORIAL
Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan di antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term). 
CONTOH PARAGRAF :
Premis mayor: Semua siswa SMA mengikuti Ujian Nasional.
Premis minor: Rizka adalah siswa SMA di  Jawa Timur.
Kesimpulan : Rizka mengikuti Ujian Nasional.

Semua siswa SMA yang ada di Indonesia pasti melaksanakan Ujian Nasional yang diharuskan oleh Dinas Pendidikan. Ujian Nasional ini wajib di ikuti oleh semua siswa di seluruh Indonesia untuk kelanjutan mereka ke bangku kuliah. Rizka adalah siswa SMA di Jawa Timur. Maka Rizka mengikuti Ujian Nasional.

2.      SILOGISME HIPOTESIS
Silogisme Hipotesis adalah jenis silogisme yang terdiri atas premis mayor yang bersifat hipotesis ,dan premis minornya bersifat katagorial . Silogisme Hipotesis ini dapat dibedakan menjadi 4 macam , yaiu : Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagian antecedent.
CONTOH PARAGRAF :
Jika hari ini tidak hujan, Budi akan ke rumah Anto (premis mayor)
Hari ini tidak hujan (premis minor)
Maka, Budi akan kerumah Anto (kesimpulan)
Jika hari ini tidak hujan,Budi akan ke rumah Anto. Karena Budi ingin mengerjakan tugas matematika yang harus dikumpulkan besok di rumah Anto karena Budi tidak mengerti tugas matematika tersebut. Dan hari ini tidak hujan. Maka, Budi akan kerumah Anto.

3.      SILOGISME ALTERNATIF
Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain.
CONTOH PARAGRAF :
A : Sinta berada di dalam kelas atau di luar kelas
B : Sinta berada di luar kelas
K : Jadi,Sinta tidak berada di dalam kelas
            Kepala sekolah mencari sinta yang berada di dalam kelas atau luar kelas untuk membahas class meeting di sekolah. Karena sinta ketua OSIS di sekolah. Ternyata Sinta berada di luar kelas . Jadi,sinta tidak berada di dalam kelas.
4.      ENTIMEN
Silogisme sebagai suatu cara untuk menyatakan pikiran tempaknya bersifat artifisial. Dalam kehidupan sehari-hari biasanya silogisme itu muncul hanya dengan dua preposisi, salah satunya dihilangkan, walaupun dihilangkan, preposisi itu tetap dianggap ada dalam pemikiran dan dianggap diketahui pula oleh orang lain. bentuk semacam ini lebih dikenal dnegan istilah entimen. Entimen adalah sebuah silogisme yang dipendekkan. Dengan kata lain entimen adalah kesimpulan dari sebuah silogisme.
CONTOH PARAGRAF :
(Pemis Umum) PU : Semua orang yang membuat banyak penelitian adalah sarjana besar.
(Premis Khusus) PK  : Prof. Andi membuat banyak penelitian
(Kesimpulan) K : Prof. Andi adalah sarjana besar.
Entimen : Prof. Andi melakukan banyak penelitian, karena ia adalah sarjana besar.

Belajar dapat dilakukan dengan berbagai cara. Bukan hanya dengan membaca buku, tetapi dapat pula dilakukan dengan melakukan sebuah penelitian. Tetapi, biasanya penelitian banyak dilakukan oleh seseorang yang menginginkan gelar seorang profesor. Jangankan yang belum mendapatkan gelar profesor, yang sudahpun akan tetap melakukan banyak penelitian untuk menambah hasil penelitiannya. Semua orang yang membuat banyak penelitian adalah sarjana besar. Profesor Andi membuat banyak penelitian. Dengan begitu prof. Andi adalah seorang sarjana besar. Jadi dapat dikatakan bahwa prof. Andi yang melakukan banyak penelitian karena ia adalah seorang sarjana besar. 

5.      GENERALISASI
Generalisasi adalah pernyataan yang berlaku untuk semua atau sebagian besar gejala yang dihadapi. Suatu generalsasi mencakuo ciri-ciri umum yang menonjol bukan rincian. Bagian yang dicetak miring merupakan kesimpulan generalisasi. Generalisasi itu didukung dengan detail awal yang disusun secara logis menuju generalisasi.
CONTOH PARAGRAF :
Di dalam sebuah keluarga ada pembagian – pembagian peran khusus yang harus menjalankan fungsi dan tugasnya masing – masing. Contohnya ayah bertindak sebagai kepala keluarga, harus menjaga dan mengarahkan keluarganya, dan ibu sebagai pengurus keluarga harus mengurus semua anggota keluarga. Namun, fungsi keluarga tersebut tidak akan berjalan dengan efektif bila tidak adanya pengawasan dan dukungan dari anggota keluarga lainnya. Sistem tersebut sama halnya dengan menjalankan sebuah organisasi yang juga membutuhkan pembagian – pembagian peran. Selain harus bekerja sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing – masing, peran – peran di dalam organisasi tersebut harus saling mendukung dan mengawasi agar suatu organisasi tersebut dapat berjalan dengan efektif. Oleh karena itu, menjalankan sebuah keluarga sama dengan menjalankan sebuah organisasi.

6.      ANALOGI
Analogi adalah suatu perbandingan yang mencoba membuat suatu gagasan terlihat benar dengan cara membandingkannya dengan gagasan lain yang mempunyai hubungan dengan gagasan yang pertama. Dengan kata lain, penalaran analogi dapat diartikan sebagai proses penyimpulan berdasarkan fakta atau kesamaan atau proses membandingkan dari dua peristiwa (hal) yang berlainan berdasarkan kesamaannya kemudian ditariklah kesimpulan dari persamaannya tersebut.
Tujuan dari penalaran secara analogi yakni :
o   Analogi dilakukan untuk meramalkan kesamaan.
o   Analogi dilakukan untuk menyingkap kekeliruan.
o   Analogi dilakukan untuk menyusun klasifikasi.
CONTOH PARAGRAF :
Belajar matematika butuh ketelitian apalagi ketika mempelajari beberapa bab tertentu yang butuh tingkat ketelitian yang tinggi. Sama seperti kita mencari jarum di tumpukan jerami ialah hal yang susah namun bukanlah mustahil jika dilakukan dengan penuh semangat dan konsentrasi.

7.      HUBUNGAN KAUSAL
Hubungan kausal adalah pola penyusunan paragraf dengan menggunakan fakta-fakta yang memiliki pola hubungan sebab-akibat. Misalnya, jika hujan-hujanan, kita akan sakit kepala atau Rini pergi ke dokter karena ia sakit kepala. Ada tiga pola hubungan kausalitas, yaitu sebab-akibat, akibat-sebab, dan sebab-akibat 1 akibat 2.
CONTOH PARAGRAF :
Grafik komputer era sekarang semakin bagus. Dari gambar 2D sampai sekarang berkembang menjadi 3D bahkan sebagian instansi membuat grafik 4D. Untuk membuat grafik sebagus ini, memerlukan hardware dan software penunjang yang baik. Karena semakin banyaknya film 3D dan diminati oleh masyarakat, permintaan pembuat grafik akan hardware semakin tinggi. Oleh karena itu, hardware dan software penunjang grafik komputer semakin mahal, bagus dan bermacam-macam.


TUGAS BAHASA INDONESIA 2# - PENALARAN








KELOMPOK 4 - Video dan Naskah Materi Catatan Kaki dan Daftar Pustaka


Materi: Catatan Kaki dan Daftar Pustaka

Nama Anggota : 
Arman Adyaksha (11113387)
Bonar (11113775)
Charlie Ariya (11113879)
Derri Permana (12113197)
Rizka Dewi (17113896)
Rizky Mauliana (17113984)

Didalam pembuatan video ini kami menggunakan teknik stop motion dengan ±486 foto dan diedit menggunakan windows movie maker. berikut adalah scene dari video tersebut.
Link video silahkan di klik https://www.youtube.com/watch?v=ov6xj9pmZo4 


TUGAS BAHASA INDONESIA
SOFSKILL



Scene

Video

Narasi

Durasi

00.00 – 00.06

Intro Video

Muncul tulisan “Selamat Menyaksikan”.

6 detik

00.07 – 00.40

Perkenalan kelompok

Muncul tulisan “Kelompok 4”.

15 detik

00.23 – 00.40

Materi yang dibawakan

Muncul kereta
yang mengeluarkan asap yangbertuliskan
“Catatan Kaki dan Daftar Pustaka”, laludikahiri oleh gambar panah.

17 detik

00.41 – 01.00

Penjelasan materi
pertama.

Tangan menulis “Apa itu catatan
kaki?”, diakhiri dengan gambar kaki dantanda tanya.

19 detik

01.01 – 01.20

Menjelaskan pengertian
catatan kaki

Muncul huruf-huruf
kelompok 4 membawa tuilisan “Adalahdaftar keterangan khusus yang ditulisdibagian bawah setiap lembaran atauakhir bab
karangan ilmiah”.

19 detik

00.21 – 00.37

Menjelaskan carapenulisan catatan kaki

Muncul pesawat membawa tulisan“Cara Penulisan Catatan Kaki”.

16 detik

00.38 – 00.53

Penjelasan materi
kedua

Ada dua sepeda bertabrakan, lalumuncul tulisan “Daftar Pustaka”, laludiakhiri dengan digunting dan terpisah.

15 detik

00.54 – 02.34

Menjelaskan pengertian
daftar pustaka

Muncul delman dengan membawatulisan “Adalah tulisan yang tersusun diakhir sebuah karya ilmiah yang berisinama penulisan,
judul tulisan, penerbit, dan tahun terbitsebagai sumber atau rujukan seorangpenulis”.


02.35 – 03.15

Menjelaskan carapenulisan daftar pustaka

Muncul tulisan “CaraPenulisan Daftar Pustaka”,lalu ada gambartanda panah kanan kiri yangdisentuh oleh jari.

Lalu muncul tulisan “1. Nama dituilis terbalik dandiurutkan sesuai abjad, 2.Tahun terbit, 3. Judul buku(ditulis miring), 4. Tempatterbit, 5. Nama penerbit”satu persatu.


03.16-03.45

Menjelaskan contoh
penulisan catatan kaki

Muncul tulisan “ContohPenulisan Catatan Kaki”.
Lalu muncul buku yangterbuka, lalu diikuti contoh-contoh penulisan catatankaki.

29 detik

03.46 – 05.00

Menjelaskan contoh
penulisan daftar pustaka

Muncul tulisan “ContohPenulisan Daftar Pustaka”.
Lalu muncul buku yangterbuka, lalu diikuti contoh-contoh penulisan daftarpustaka.

14 detik

05.01 – 05.11

Ending Video

Muncul tulisan “TerimaKasih”.
Muncul credit ataupembuatn video

10 detik


Penelitian Bidang Sistem Informasi Managemen di Indonesia (SIMDI): Quo Vadis?



Rahmat M. Samik­Ibrahim

Direktur vLSM.org

Email : vlsm.org at  gmail dot com ­­­ rev 08.02.01.00 ­­­ URL: http://rms46.vlsm.org/2/114.pdf

© 2004­2008 Rahmat M. Samik­Ibrahim ­­ GNU Free Document License ­­ Silakan secara bebas menggandakan makalah ini.




ABSTRAK

Makalah ini mengasumsikan bahwa telah ada (exists) berbagai  kegiatan  penelitian  SisteInformasi Managemen (SIM) di Indonesia (DI).  Namun, populasi komunitas SIMDI masih sedikit, serta tersebar pada berbagai disiplin ilmu yang lebih mapan seperti Ilmu Komputer, Bisnis dan Managemen, Psikologi, dan sebagainya. Tulisan ini mencoba untuk mempertanyakan arah dari SIMDI. Dengan mengkaji bagaimana SIM berkembang di belahan bumi yang lain, serta memahami kondisi nyata SIMDI, akan diusulkan beberapa kiat untuk ditindak­lanjuti.

Kata kunci: SIM, Sistem Informasi Managemen, Indonesia.


1.   PENDAHULUAN

Sistem   Informasi   Manageme (SIM)   merupakan sebuah bidang yang mulai berkembang semenjak tahun
1960­an. Walau tidak terdapat konsensus tunggal, secara umum  SIM  didefinisikan  sebagai  sistem  yang menyediakan  informasi  yang  digunakan  untuk mendukung operasi, managemen, serta pengambilan keputusan sebuah organisasi. SIM juga dikenal dengan ungkapan lainnya seperti: Sistem Informasi, Sistem Pemrosesan Informasi, Sistem Informasi dan Pengambil Keputusan” [1].

Judul makalah ini mengandung tanda tanya. Namun, mohon untuk tidak ditafsirkan bahwa di Indonesia tidak terdapat kegiatan penelitian yang berhubungan dengan SIM. Justru, diasumsikan bahwa kegiatan tersebut telah

ada (exists), sehingga tidak ada klaim bahwa perlu melakukan perintisan bidang ini dari nol. Namun, bidang ini telah berkembang  secara paralel di berbagai bidang ilmu yang telah mapan terutama Ilmu Komputer, Teknik Elektronika,  serta Bisnis dan Managemen.

Justru,  tulisan  ini  mencoba  untuk  mempertanyakan arah dari berbagai kegiatan SIM tersebut. Selanjutnya mengusulkan beberapa kiat untuk menyelaraskan kegiatan penelitan SIM tersebut. Makalah ini dapat dimanfaatkan sebagai pembuka, dengan membuat sebuah sketsa kasar kondisi bidang SIM di Indonesia. Manfaat langsung yang akan diperoleh merupakan konsensus   kondisi yang riil, serta hal­hal yang mungkin dapat ditindak­lanjuti.

Komposisi komunitas majemuk ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Hal serupa juga dialami komunitas SIM  di  berbagai  negara  termasuk  Amerika  Utara  dan Eropa pada awal pembentukannyaPengalaman mereka dala merintis   pengembanga bidang   SIM   menjadi sangat  berharga  untuk  dijadikan  model/rujukan.  Untuk itu, makalah ini akan membahas secara singkat cikal bakal berkembangnya bidang ini dibelahan bumi lain.


2.   LATAR BELAKANG PERKEMBANGAN

Bagian ini akan mengungkapkan bagaimana bidang SIM berkembang di Amerika Utara dan Eropa. Titik penekanan akan lebih pada proses pertumbuhan bidang ini, dan bukan kronologi peristiwa yang terkait dengan perkembangan SIM.

SIM merupakan bidang terapan yang mendapatkan perhatian  para  pelaku  bisnis sejak  Teknologi  Informasi




(TI)  dimanfaatkan  pada  tahun  1950­an.  Pada  awalnya, titik   fokus   utama   iala efisiensi,   menginga harga perangkat keras yang sangat mahal (jutaan dollar). Secara perlahan komponen biaya perangkat keras menyusut. Namun secara keseluruhan, anggaran tahunan TI sebuah organisasi cenderung untuk terus meningkat. Timbul kesadaran bahwa masalah yang dihadapi bukan sekedar Ilmu Komputer, Teknik Elektronika, atau Matematika. Diperlukan  sebuah  metoda  universal  yang  secara sistematis dan efektif dapat dengan cepat menanggulangi permasalahan  yang  timbul  dari  waktu  ke  waktu.  Ini berbeda  dengan  tradisi  ''dunia  akademis''  yang menawarkan berbagai variasi ''solusi teoritis'' yang telah dikaji secara ilmiah untuk permasalahan yang belum tentu ada.

Topik  dalam  bidang  SIM  mulai  mendapatkan perhatian para akademisi pada tahun 1960­an. Pola yang lazim terjadi ialah para akademisi terjun langsung ke lapangan sebagai konsultan. Selanjutnya, para akademisi berupaya untuk menyelesaikan permasalahan SIM dengan beraneka ragam kerangkkerja (framework). Kerangka­ kerja tersebut sesuai dengan latar belakang pendidikan masing­masing, seperti Ilmu Komputer, Ilmu Teknik Elektro, Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Ilmu Matematika dan Statistika, Bisnis dan Managemen, serta berbagai Ilmu Sosial lainnya seperti Psikologi, Budaya, Filsafat, dan mungkin masih ada klaim dari ilmu lainnya yang tidak dapat diuraikan satu persatu. Keaneka­ragaman ini mendorong berbagai upaya untuk memperkenalkan model­model kerangkat­kerja yang terpadu [2].

Institusi akademis yang pertama mengkhususkan diri dalam   bidang   SIM   iala Management      Information System Research Center    (MISRC) di Universitas Minnesota (1968). Kiprah MISRC banyak sekali mempengaruhi perintisan perkembangan SIM sebagai sebuah  bidang  ilmu.  Pada  tahun  1977,  MISRC menerbitkan sebuah jurnal   akademis yaitu Management Information   System   Quarterly   (MISQ) MISQ   terbit empat kali per tahun. Setiap terbitan MISQ berisi tiga hingga  empaartikel ilmiah.  Pada tahun  1980,  MISRC turut  membidani  sebuah  konferensi  tahunan  bergengsi yaitu  International  Conference  of  Information  Systems

(ICIS).    ICIS    diselenggarakan    setiap    tahun    pada pertengahan bulan Desember.

Forum diskusi panel ICIS biasanya digunakan untuk mematangkan berbagai ide dan wacana. Hasil tindak lanjut dari forum tersebut diantaranya membidani pendirian Association of Information Systems (AIS) pada tahun 1994, demikian pula publikasi situs internet
ISWordNet, peleburan ISWordNet dan ICIS ke dalam wahana AIS (2000), serta penerbitan dua jurnal elektronis yaitu Journal of the AIS (JAIS) dan Communication of
melemparkan sebuah isu serta mengumumkan CfP (Call for Papers).

Kelompok    ''Minnesota''    yang    dimotori    MISRC
merupakan kubu yang lebih mengutamakan kepentingan
''akademis'' dan ''ilmiah'' dibandingkan dengan aspek terapannya. Program pendidikan doktorat di Universitas Minnesota  mensyaratkan/mengharapkan  bahwa lulusannya akan menjadi tenaga akademis di Universitas lainnya. Karena telah meluluskan tenaga S3 bidang SIM sejak tahun 1970­an, alumninya telah menyebar serta menduduki berbagai posisi senior pada universitas terkemuka  di  berbagai  belahan  dunia.     Aliran  kubu MISRC ini cenderung positivistik yang terkenal dengan model  kerangkacuan  ''kotak   konseptual''  dan   ''anak panah sebab akibat''.

Selain  kelompk  ''Minnesota''  ini,  terdapat  berbagai kubu alternatif, seperti kubu pantai timur (MIT, Harvard), kubu  pantai bara(Kalifornia),  kubu  Eropa,  dan seterusnya. Kubu pantai Timur, umpamanya, memiliki pandangan yang lebih mengarah ke aspek terapan. Ini terlihat bahwa terbitan yang lebih praktis seperti Harvard Business Review dan Sloan Management Review. Pola bidang SIM di Eropa pun lebih menjurus ke bidang terapan.   Bahkan,       lulusa S dar Jerma lebih




dipersiapkan untuk terjun ke bidang industri dibandingkan ke bidang akademis.


3.   MENCARI  CIRI KHAS BIDANG SIM

Konsekuensi dari sebuah bidang ilmu yang relatif baru ialah para penelitinya memiliki latar belakang non­SIM. Mereka cenderung memanfaatkan kaidah dan metoda sesuai bidang latar belakang yang mereka anut,   serta mempertahankan warna bawaannya tersebut. Ini dapat ditolerir pada awal pembentukan sebuah bidang ilmu. Namun sebuah bidang yang mapan seharusnya mengandung "komponen inti" yang menjadi ciri khas bidang  tersebut,  dan  SItidak  dapat  menjadi perkecualian.

Polemik  perihaapa  yang  termasuk  dalam  kategori SIM dan mana yang bukan, seumur dengan bidang SIM itu sendiri. Pada konferensi ICIS yang pertama (1980), Peter Keen secara terbuka mempertanyakan apakah SIM betul­betul sebuah bidang ilmu atau hanya sekedar tema populer [3]. Isu serupa biasanya menimbulkan debat yang
''hangat''   setiap  kali  timbul  dalam  milis  ISWordNet. Dalam sebuah diskusi panel ICIS, pernah diperdebatkan pengaruh para ''Barbarian'' dari bidang lain yang secara tidak hentinya bersiaga di ''tapal batas'' bidang MIS [4]. Bahkan, volume 6 dari jurnal Communcation of the AIS (CAIS) merupakan edisi khusus perihal relevansi bidang ilmu MIS.

Baskerville dan Myers [10] menguatkan argumentasi bahwa SIM sudah saatnya menjadi sebuah disiplin ilmu secara mandiri. Davis [5] menawarkan konsensus, bahwa setidaknya terdapat lima aspek yang dapat dikategorikan sebagai ciri khusus bidang SIM:

Proses Managemen, seperti "perencanaan strategis", "pengelolaan  fungsi  sistem  informasi",  dan seterusnya.

Proses Pengembangan, seperti "managemen proyek pengembangan sistem", dan seterusnya.

Konsep    Pengembangan,    seperti    "konsep    sosio­
teknikal", "konsep kualitas",  dan seterusnya.

Representasi,      seperti      "sistem      basis      data", "pengkodean program", dan  seterusnya.

Sistem Aplikasi, seperti "Knowledge Management", "Executive System", dst.

Orlikowski dan Iacono [6] menyerukan agar jangan mengabaikan ''artifak IT'' sebagai isu sentral. Mereka mengamati bahwa terdapat kecenderungan penelitian SIM untuk mengasumsikan bahwa artifak IT itu sendiri tidak bermasalah. Artifak (karya/produk) IT tersebut pada umumnya  berbentuk   perangkat  lunak  atau  perangkat keras. Benbasat dan Zmud [7] menjabarkan isu tersebut dengan menawarkan sebuah model konseptual seputar artifak  IT  tersebut.  Whinston  dan  Geng  [11] mengingatkan potensi wilayah kelabu/tidak bertuan dalam bidang SIM.


4.   EKSISTENSI SIMDI

Pada dua bagian sebelumnya telah dibahas latar belakang perkembangan SIM serta perdebatan perihal komponen khas bidang SIM. Bagian ini mencoba untuk mengkaji keadaan SIM di Indonesia (SIMDI) beserta asumsi yang dipergunakan.

Kehadiran  SIMDI itu sendirtidak  perlu  diragukan. Pada konferensi SNIKTI 2004 ditemukan lebih dari 10 judul makalah dengan tema ''berbau'' SIM. Setiap tahun beredar berbagai ''Call for Papers'' yang mengundang penulisan makalah dalam bidang SIM. Pada umumnya, SIM hanya merupakan salah satu dari topik konferensi/seminar. Institusi penyelenggara konferensi biasanya tidak berafiliasi langsung dengan bidang SIM, namun berupa bidang­bidang ilmu lain yang telah diungkapkan sebelumnya .

Walau pun ada (exists), komunitas SIMDI terkesan malu­malu dan tersembunyi. Sekurangnya terdapat dua kemungkinan yang dapat menjelaskan kenyataan ini. Pertama para   pelaku   bidang   SI Indonesia   terlalu tersebar serta berhimpun diberbagai bidang ilmu induknya masing­masing, sehingga mereka tidak saling kenal­ mengenal. Kedua, jumlah mereka memang kecil serta posisi  yang  lemah.  Kemungkinan  ke  dua  ini  didukung




dengan kenyataan bahwa peranan Indonesia dalam bidang SIM secara regional/internasional yang sangat minim. Jarang sekali pertemuan regional seperti PACIS (Pacific Asia Conference on Information Systems) atau pertemuan internasional seperti ICIS dihadiri komunitas SIM dari Indonesia.

Lebih  langka  lagi ialah,  karya  tulis  komunitaSIM dari Indonesia yang dipresentasikan pada sebuah konferensi, apalagi karya tulis yang tembus ke publikasi internasional.  Dampak  dari  ini  ialah  bahwa  aktifitas SIMDI   tida terlihat   oleh   komunitas   internasional. Dengan  sendirinya,  sedikit  sekali  ada  orang  Indonesia yang mendapatkan tawaran untuk menjadi ''reviewer'' makalah untuk konferensi atau jurnal internasional. Kehilangan tawaran menjadi ''reviewer'' berarti kehilangan kesempatan  untuk  ''mengintip''  riset  yang  sedang dikerjakan oleh komunitas SIM lainnya [8].

Kendala tersebut di atas, belum termasuk yang secara umum   dialami para peneliti dari Indonesia. Pertama, kemampuan berbahasa menjadi rintangan dalam berkomunikasi,  menulis,  dan  membaca makalah  bahasa asing secara umum, bahasa Inggris secara khusus. Kedua, keterbatasan jurnal (asing) yang dilanggan masing­masing institusi. Ketiga, fasilitas institusi yang kurang memadai, seperti akses internet bagi peneliti. Terakhir, iuran keanggotaan profesional yang relatif mahal merupakan faktor kendala untuk menjadi anggota profesi [8].


5.   SIMDI: SUMBANG SARAN

Makalah ini ditutup dengan sedikit sumbang saran. Pertama­tama perlu ada konsensus dari orientasi SIMDI: apakah berbasis ''teori murni'' lengkap dengan model kerangka acuan ''kotak konseptual'' dan ''anak panah sebab akibat''. Atau, apakah sebaiknya berorientasi terapan yang menunjang industri SIMDI? Diusulkan agar para pelaku SIMDI menerapkan pilihan kedua yang manfaatnya akan lebih cepat terasa. Para akademisi SIMDI secara berkala melakukan sabatikal ke lapangan, agar tetap mengikuti perkembangan terakhir dari dunia SIM yang nyata. Pola ini  juga  diterapkan  para  akademisi  dari  cabang  ilmu

seperti kedokteran, hukum, teknik sipil, arsitektur, yang biasanya tetap menerapkan ilmunya sebagai profesi.

Mengabaikan kegiatan berorientasi teori murni, berpotensi dampak jangka panjang yang kurang baik. Para pelaku SIMDI sebaiknya secara teratur mengakses publikasi  utama  seperti  ISR,  MISQ,  JAIS,  dan  CAIS. Edisi elektronis dari MISQ, JAIS, dan CAIS dapat diakses bebas biaya, jika menjadi anggota AIS. Anggota AIS dari negara yang sedang berkembang seperti Indonesia mendapatkan potong iuran tahunan hingga 90%. Bahkan untuk  JAIS  dan  CAIS,  AIS  memberikan  akses  secara bebas  biaya  bagi  institusi  pendidikan  di  negara  yang sedang berkembang. Informasi lanjut mengenai fasilitas ini dapat dilihat di

Besar harapannya, bahwa setiap pelaku SIMDI sekurangnya tahu akan eksistensi jurnal tersebut di atas, agar mengetahui perkembangan serta mengenal apa­siapa dalam bidang ini. Langkah ini perlu dilanjutkan dengan melakukan penelitian/penulisan makalah yang menjadi tindak lanjut dari makalah di jurnal utama. Target akhir tentunya bukan hanya mengutip, namun juga berupaya untuk menulis di jurnal utama tersebut.

Perlu  diupayakan  pengiriman  peserta  secara  teratur dari Indonesia untuk konferensi regional seperti PACIS. Tentunya lebih baik, jika peserta tersebut juga menjadi pembawa makalah. Informasi mengenai ''Call for Papers'' lainnya dapat diikut melalui milis ISWordNet. Titik awal menulis  ke  jurnal  internasional  dapat  dengan mengirimkan makalah ke   The Electronic Journal of Information Systems in Developing Countries (EJISDC)
dengan URL berikut: http://www.ejisdc.org/.

Dewasa ini ditemukan beberapa jurnal bidang SIM terbitan dalam negeri. Pada umumnya, sirkulasi jurnal tersebut agak terbatas serta jadual penerbitannya kurang teratur. Diusulkan untuk menerbitkan sebuah jurnal elektronis yang mengikuti pola JAIS/CAIS dengan lisensi bebas sehingga dapat dengan mudah diarsipkan ke dalam CDROM. Lobby tingkat tinggi diperlukaagar terbitan elektronis dianggap setara (kumnya) dengan terbitan cetakan.  Kapasitas  simpan  elektronis  yang  relatif  besar




memungkinkan jurnal tersebut juga dimanfaatkan untuk menampung karya tulis/ringkasan tesis dari penelitian S3, S2, dan bahkan S1. Penerbitan karya tulis secara terbuka dan dapat diakses secara luas justru dapat menjadi kiat untuk menghindari plagiatisme akademis.

Tentunya, dapat diusulkan berbagai hal lainnya seperti mendirikan cabang/chapter AIS, mendirikan milis khusus SIM (atau memanfaatkan milis yang telah ada), serta mengupayakan konferensi tahunan khusus bidang SIM.

Sebagai penutup, penulis menghimbau agar masing­ masing jangan lupa mengintip bagaimana SIM dimanfaatkan oleh institusi masing­masing. Apakah tingkatan  jabatan  dari  ''CIO''  di  institusi  kita  sendiri? Kepala Seksi? Kepala Bidang? Kepala UPT? Direktur? dst. Berapakah anggaran tahunan IT di institusi kita? Bagaimana status ''strategic­plan'' institusi kita? Kapan paling akhir ''strategic­plan''­nya di­revisi/di­tinjau ulang? Terdapat  kemungkinan  bahwa, SIM di  rumah''  sendiri dapat dijadikan topik penelitian bidang SIM! Kalau kita tidak dapat menyelesaikan SIM di lingkungan kita sendiri, mengapa kita berasumsi dapat membuatkan stategic­ plan untuk sebuah organisasi lain?


REFERENSI

[1] G. Davis and M. Olson, Management Information
Systems, 1984, 5­6.

[2] G.A. Gorry and M.S. Scott, A Framework for Management Information Systems, Sloan Management Review, 13(1), Fall 1971, 55­70.

[3] P.G.W. Keen, MIS Research: Reference Disciplines and A Cummulative Tradition, Proceedings of the First International Conference on Information Systems, E. Mc Lean (ed.), 1980, 9­18.

[4] J. Fedorowitz, Are There Barbarian at the Gates of Information Systems?, Panel 9 at  International Conference on Information Systems, 1996.


[5] G. Davis, Information Systems Conceptual Foundations: Looking Backward and Forward, Organizational and Social Perpectives on Information Technology, R.L. Baskerville et. al. (eds), 2000,
61­82.

[6] W. J. Orlikowski and C.S. Iacono, Research Commentary: Desperately Seeking the ''IT'' in IT Research ­­ A Call to Theorizing the IT Artifact.

[7] I. Benbasat and R.W. Zmud, The Identity Crisis Within The IS Discipline: Defining and Communicating The Discipline Core Properties, MIS Quarterly, 27(2), June 2003, 183­194.

[8] R.M. Samik­Ibrahim, M3: Potensi Masalah Dari
Dunia Ketiga,  2002, per 17 Nov ,

[9] N. Bruell, Exporting Software from Indonesia,
EJISDC, 2003, 13(7), 1­9.

[10] R.L. Baskerville and M. D. Myers, Information
Sistems as A Reference Discipline, MIS Quarterly,
26(1), March 2002, 1­14.

[11] A.B. Whinston and X. Geng, Operationalizing the Essential Role of the Information Technology Artifact in Information Systems Research: Gray Area, Pitfalls, and the Importance of Strategic Ambiguity.

[12] K. Lyytinen, ed. al., Making Information Systems Research More Relevant: Academic and Industry Perspectives,  Proceedings of the First International Conference on Information Systems, P De, et. al. (ed.),
1999, 574­577.


UCAPAN TERIMA­KASIH


Terimakasih kepada A.A. Nazief and W.S. Nugroho, serta rekan­rekan lainnya yang ikut memberikan komentar atas makalah ini.